Pernahkah Anda bertanya-tanya kenapa performa website kurang optimal atau menurun? Untuk menemukan sumber masalahnya, Anda bisa melakukan audit UX sederhana. Hal ini penting karena Anda harus tahu masalahnya dulu sebelum mengatasinya.
Secara garis besar, standar audit UX sederhana itu tidak terlalu sulit untuk Anda penuhi. Jadi meski Anda adalah seorang pemula, proses auditnya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Tinggal ikuti checklist audit di bawah ini!
Cara Audit UX Sederhana
Penting untuk Anda catat bahwa UX adalah singkatan dari user experience, merujuk pada desain produk yang ramah pengguna. Jika user punya pengalaman baik saat menggunakan dan melakukan navigasi di website Anda, artinya desain UX bagus.
Namun terkadang ada beberapa masalah yang membuat pengalaman pengguna jadi kurang maksimal, sehingga Anda perlu mengikuti cara audit UX sederhana berikut ini!
1. Tentukan Matriks dan Tujuan Audit
Pertama-tama, Anda harus tahu dulu apa matriks dan tujuan dari audit yang akan Anda lakukan. Hal ini penting agar Anda tahu di mana harus fokus memperbaiki masalahnya. Jangan sampai audit terasa abstrak tanpa tujuan yang jelas karena akan kurang efektif.
Tentukan apakah Anda ingin mengurangi jumlah bounce rate (user yang mengklik link website namun langsung keluar lagi), mengurangi para user yang meninggalkan keranjang tanpa checkout, dan lain-lain. Ini adalah langkah audit pertama yang wajib Anda lakukan.
2. Cari Data yang Relevan dan Kumpulkan
Setelah tahu matriks dan tujuannya, langkah audit website yang selanjutnya adalah mencari data yang relevan dan mengumpulkannya. Sebagai contoh, Anda harus mencari tahu seberapa banyak jumlah bounce rate di web selama periode tertentu.
Caranya bisa dengan menggunakan tools audit website, seperti Google Analytics, Ahrefs, dan lain-lain. Melalui data tersebut Anda bisa tahu halaman mana yang memiliki jumlah bounce rate paling tinggi dan masalah-masalah lain yang mungkin terasa oleh user.
Selain menggunakan tools, Anda juga bisa membaca review, keluhan, atau feedback dari pelanggan untuk mengumpulkan data. Cara ini juga tidak kalah efektif untuk mencari tahu di mana sumber masalah yang membuat performa website Anda tidak maksimal.
3. Cek Interface untuk Mencari Sumber Masalah, Posisikan Diri Sebagai User
Jika data sudah terkumpul, Anda bisa melanjutkan proses audit dengan cara mengecek interface atau desain antarmuka website. Posisikan diri sebagai user dan bukan pengembang web agar bisa melihat sumber masalah dengan pandangan yang lebih objektif.
Untuk memastikan desain website sudah optimal, pastikan untuk memenuhi semua checklist audit UX berikut!
- ● Hitung berapa lama waktu loading, dari pertama kali Anda mengklik link website hingga halamannya muncul.
- ● Lihat tombol untuk navigasi website, kira-kira bisakah Anda mengoperasikannya dalam waktu tiga detik pertama sebagai user yang pertama kali mengaksesnya?
- ● Perhatikan apakah posisi tombol tersebut tetap sama setelah berganti halaman atau tidak.
- ● Coba tekan tombol tersebut, perhatikan apakah ada pesan jelas ketika Anda selesai melakukan tugas tertentu? Contohnya pop-up yang menyatakan bahwa Anda telah sukses, ikon loading, dan lain-lain.
- ● Jika ada halaman untuk memasukkan data atau informasi, cek apakah ada cara untuk memperbaikinya jika salah submit. Contohnya seperti tombol hapus, tombol edit, dan lain-lain.
4. Evaluasi dan Buat Daftar Prioritas
Hasil temuan dari checklist audit UX sederhana bisa Anda gunakan sebagai bahan evaluasi. Catat masalah apa yang Anda temui saat memosisikan diri sebagai user, lalu cari jalan keluarnya. Jika ada lebih dari satu masalah, maka bisa buat daftar prioritas.
Ada dua cara untuk membuat daftar prioritas, yaitu dengan mengurutkan mana yang paling darurat dan mana yang paling mudah. Tapi yang paling ideal adalah mengerjakan sumber masalah yang darurat dulu karena punya dampak besar bagi bisnis Anda.
Jika sudah tidak ada yang darurat dan harus diselesaikan secepat mungkin, maka Anda bisa mengurutkannya berdasarkan tugas termudah.
Penutup
Itulah beberapa cara audit UX sederhana yang bisa Anda lakukan, dari menentukan matriks dan tujuan audit hingga evaluasi dan buat daftar prioritas. Apabila daftar prioritasnya sudah ada, maka Anda tinggal melakukan perbaikan satu per satu hingga masalahnya selesai.
Apa perspektif Anda?